Diabetes Melitus, yang sering dikenal sebagai “penyakit gula”, bukan hanya tentang tingginya kadar glukosa dalam darah. Lebih dari itu, diabetes membawa risiko jangka panjang yang sangat serius, yang dikenal sebagai Komplikasi Diabetes. Ancaman senyap ini secara perlahan merusak organ-organ vital, dan sering kali gejalanya tidak disadari hingga kerusakannya sudah parah. Salah satu fokus utama kerusakan tersebut adalah pada sistem mikrovaskular dan makrovaskular, yang memengaruhi mata, ginjal, dan saraf. Mengingat prevalensi diabetes yang terus meningkat—menurut data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023, diperkirakan ada lebih dari 10 juta penduduk dewasa Indonesia yang hidup dengan diabetes—pemahaman dan pencegahan terhadap komplikasi ini menjadi sangat krusial.
Penyakit diabetes yang tidak terkontrol dengan baik akan menyebabkan kadar gula tinggi yang konstan. Dalam jangka waktu tertentu, gula darah berlebih ini akan merusak pembuluh darah kecil (mikrovaskular) di seluruh tubuh. Di mata, kerusakan ini dikenal sebagai Retinopati Diabetik. Kerusakan pada pembuluh darah retina dapat menyebabkan penglihatan kabur, munculnya bintik-bintik gelap, hingga yang paling parah adalah kebutaan permanen. Penting bagi penderita diabetes untuk melakukan pemeriksaan mata secara rutin. Misalnya, berdasarkan rekomendasi dari Ikatan Dokter Mata Indonesia (IDMI), penderita diabetes tipe 2 dianjurkan untuk mulai melakukan skrining mata sejak diagnosis ditegakkan, dan dilanjutkan minimal setahun sekali. Pemeriksaan ini harus dilakukan oleh Dokter Spesialis Mata yang kompeten.
Ancaman berikutnya adalah pada organ filtrasi utama tubuh, yaitu ginjal, yang disebut Nefropati Diabetik. Ini adalah penyebab utama gagal ginjal stadium akhir di banyak negara. Ginjal bertugas menyaring limbah dan cairan berlebih dari darah. Gula darah tinggi secara bertahap merusak filter-filter halus di dalam ginjal, yang mengakibatkan kebocoran protein (terutama albumin) ke dalam urine. Tahap awal ditandai dengan ditemukannya Mikroalbuminuria. Apabila tidak ditangani, kondisi ini akan berkembang menjadi Gagal Ginjal Kronis, yang memerlukan terapi pengganti ginjal, seperti cuci darah atau transplantasi. Sebuah studi kasus di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, yang tercatat pada laporan bulanan Maret 2024, menunjukkan bahwa mayoritas pasien baru yang menjalani hemodialisis memiliki riwayat Nefropati Diabetik selama lebih dari lima tahun. Mengontrol tekanan darah dan kadar gula adalah kunci utama dalam mencegah perkembangan Komplikasi Diabetes ini.
Selain mata dan ginjal, sistem saraf juga menjadi sasaran utama. Kerusakan saraf ini dikenal sebagai Neuropati Diabetik. Terdapat beberapa jenis neuropati, tetapi yang paling umum adalah Neuropati Perifer, yang memengaruhi saraf di kaki dan tangan. Gejalanya bisa berupa rasa kesemutan, mati rasa, atau bahkan rasa sakit yang membakar. Karena adanya mati rasa, penderita sering tidak menyadari adanya luka kecil, lecet, atau infeksi pada kaki. Luka yang terabaikan ini, ditambah dengan sirkulasi darah yang buruk (komplikasi vaskular), dapat memicu infeksi parah yang berujung pada Ulkus Kaki Diabetik, dan dalam kasus terburuk, amputasi. Data dari Satuan Tugas Pengendalian Diabetes di sebuah klinik spesialis di Bandung, yang dilaporkan pada pertemuan mingguan setiap hari Rabu pukul 09.00 WIB, tanggal 4 September 2024, menggarisbawahi bahwa lebih dari 60% kasus amputasi non-traumatik yang mereka tangani berhubungan erat dengan Neuropati dan Ulkus Kaki Diabetik. Pengelolaan kaki yang baik, termasuk pemeriksaan harian dan penggunaan alas kaki yang tepat, sangat ditekankan.
Komplikasi Diabetes ini dapat dicegah atau diperlambat perkembangannya melalui manajemen diabetes yang disiplin. Kunci utamanya terletak pada pengendalian glukosa darah (mencapai target HbA1c yang direkomendasikan dokter), pengendalian tekanan darah (target umumnya di bawah 130/80 mmHg), dan pengendalian kolesterol. Perubahan gaya hidup, seperti diet seimbang, olahraga teratur minimal 150 menit per minggu, serta kepatuhan pada jadwal pengobatan dan pemeriksaan rutin adalah fondasi utama untuk melindungi mata, ginjal, dan saraf Anda dari ancaman senyap ini.