Di tengah tingginya kasus penyakit pernapasan, seringkali muncul kebingungan karena flu biasa (influenza) dan COVID-19 (disebabkan oleh virus SARS-CoV-2) sama-sama menyerang sistem pernapasan dan memiliki banyak gejala yang tumpang tindih. Membedakan Gejala kedua penyakit ini menjadi sangat penting untuk menentukan langkah isolasi, pengobatan yang tepat, dan kapan harus segera mencari pertolongan medis. Meskipun tes diagnostik adalah satu-satunya cara pasti untuk Membedakan Gejala kedua penyakit ini, pemahaman tentang perbedaan dan kesamaan utama dapat membantu masyarakat melakukan deteksi dini yang krusial.
Gejala Umum yang Tumpang Tindih
Baik flu biasa maupun COVID-19 dapat menyebabkan demam, batuk, kelelahan, nyeri otot/pegal-pegal, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Kedua penyakit ini menular melalui droplet pernapasan dan dapat memiliki tingkat keparahan yang bervariasi, mulai dari tanpa gejala (asimtomatik) hingga kondisi yang mengancam jiwa. Masa inkubasi atau rentang waktu dari paparan virus hingga munculnya gejala adalah perbedaan awal yang patut dicatat. Flu biasa cenderung memiliki masa inkubasi yang lebih pendek, biasanya 1 hingga 4 hari setelah terpapar. Sementara itu, COVID-19 memiliki rentang inkubasi yang lebih lebar, yaitu 2 hingga 14 hari setelah terpapar, meskipun gejala sering muncul sekitar 5 hari.
Perbedaan Khas yang Membantu Membedakan Gejala
Tanda paling khas yang secara tradisional digunakan untuk Membedakan Gejala adalah Anosmia (hilangnya indra penciuman) dan Ageusia (hilangnya indra perasa) secara tiba-tiba tanpa disertai hidung tersumbat yang parah. Meskipun hilangnya indra penciuman bisa terjadi pada flu berat karena hidung tersumbat, pada COVID-19, fenomena ini seringkali terjadi secara mendadak. Selain itu, sesak napas atau kesulitan bernapas biasanya lebih sering, dan lebih parah, terjadi pada kasus COVID-19, dan seringkali menjadi tanda bahwa infeksi telah menyerang saluran pernapasan bawah atau paru-paru.
Kapan Harus ke Dokter?
Mengingat potensi keparahan COVID-19 dan risiko komplikasi seperti pembekuan darah atau Long COVID, ada beberapa gejala yang harus diwaspadai sebagai kondisi darurat. Menurut panduan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan pada 1 Oktober 2025, segera cari pertolongan medis jika Anda mengalami:
- Kesulitan bernapas atau sesak napas yang parah.
- Nyeri atau tekanan persisten di dada.
- Bibir, wajah, atau kuku menjadi kebiruan (sianosis).
- Kebingungan yang tiba-tiba atau ketidakmampuan untuk tetap terjaga.
- Demam tinggi (>38∘C) yang tidak kunjung reda setelah lebih dari 3 hari.
Jika Anda memiliki gejala ringan yang tumpang tindih, cara paling aman dan pasti untuk mengetahui penyebabnya adalah dengan melakukan tes COVID-19 (Antigen atau PCR). Petugas Unit Gawat Darurat di rumah sakit tertentu pada hari Jumat, 20 September 2024, mencatat bahwa pasien yang datang dengan saturasi oksigen di bawah 95% seringkali memerlukan intervensi medis segera. Mengambil tindakan cepat dan tepat setelah Membedakan Gejala awal adalah langkah terbaik untuk melindungi diri sendiri dan orang di sekitar Anda.