Bagi sebagian besar pekerja dan mahasiswa, mengonsumsi kopi di pagi hari sudah menjadi ritual yang sulit dihilangkan demi menjaga kewaspadaan. Namun, munculnya bahaya ‘coffee habit’ saat sahur menjadi perhatian serius bagi kesehatan sistem pencernaan selama bulan Ramadan. Mengonsumsi kafein dalam kondisi perut yang akan segera berpuasa selama belasan jam dapat memicu peningkatan asam lambung secara drastis. Hal ini sering kali menyebabkan sensasi terbakar di dada (GERD), mual, hingga nyeri ulu hati yang dapat mengganggu kenyamanan ibadah puasa Anda di siang hari. RS Cahaya Sehat mengingatkan bahwa sifat diuretik pada kopi juga berisiko mempercepat pembuangan cairan tubuh, sehingga tubuh lebih rentan mengalami dehidrasi sebelum waktu berbuka tiba.
Selain berdampak pada lambung, bahaya ‘coffee habit’ saat sahur juga terletak pada kemampuannya mengganggu penyerapan nutrisi penting dari makanan yang Anda konsumsi. Kafein dapat menghambat penyerapan kalsium dan zat besi, yang sangat dibutuhkan tubuh untuk menjaga stamina selama berpuasa. Bagi Anda yang memiliki riwayat maag kronis, efek stimulan dari kopi dapat mengiritasi dinding lambung yang sensitif, apalagi jika kopi tersebut dikonsumsi dengan tambahan gula atau krimer berlebih. Sangat disarankan untuk mengganti asupan cairan di waktu sahur dengan air putih hangat, jus buah segar, atau teh herbal yang lebih lembut di perut agar metabolisme tubuh tetap berjalan seimbang tanpa gangguan pencernaan yang menyiksa.
Respons pasien dan masyarakat terhadap edukasi mengenai bahaya ‘coffee habit’ saat sahur di media sosial RS Cahaya Sehat sangatlah tinggi. Banyak netizen yang baru menyadari bahwa rasa lemas dan pusing di siang hari bisa jadi disebabkan oleh konsumsi kopi yang tidak tepat waktu. Viralitas tips kesehatan ini membantu masyarakat untuk mulai merancang menu sahur yang lebih ramah lambung dan kaya akan hidrasi. Kesadaran untuk melakukan “puasa kafein” atau setidaknya mengurangi dosis harian mulai diikuti oleh banyak orang demi mendapatkan kualitas puasa yang lebih sehat dan bertenaga. Melalui pemahaman medis yang benar, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam memilih minuman pendamping sahur agar fungsi organ dalam tetap terjaga optimal.